Festival Keadilan: Memperkuat Gerakan Masyarakat Sipil Lokal

Oleh: AJI Kediri

Kediri – Dalam rangka memperkuat gerakan masyarakat sipil lokal di Kediri, Aksi Kamisan Kediri bersama dengan Social Movement Institut (SMI) dan Kontras mengadakan Festival Keadilan, Sabtu (16/09). Acara tersebut berlangsung dari siang sampai dengan sore bertempat di Sekolah Alam Ramadhani.

Acara tersebut merupakan rangkaian roadshow yang sudah diadakan sebelumnya di beberapa kota di Pulau Jawa. Di Kediri, hadir Fatia Maulidiyanti, Haris Azhar, Muhammad Isnur dan Eko Prasetyo sebagai pembicara isu nasional. Juga dihadirkan Danu Sukendro dari AJI Kediri, Dwi Rika Imayanti dari Manager LPA Tulungagung, dan Rahmad Hidayatullah dari FNKSDA sebagai pembicara isu lokal.

Dihadiri sekitar 100 lebih peserta, acara dimulai pukul 13.45 diawali dengan penampilan monolog dari Khadafi. Dalam penampilannya, Khadafi membawakan monolog berjudul “Tangis di Pesawat Kertas” yang menggambarkan bagaimana sedih dan susahnya kehidupan beberapa masyarakat yang lahannya tergusur oleh pembangunan bandara di Kediri.

Acara selanjutnya pemaparan isu gender oleh Dwi Rika. Dalam kesempatan itu, Rika memaparkan tentang pentingnya mencermati keadaan sosial masyarakat sekitar yang dilakukan oleh generasi bangsa. Hal itu guna mencegah dan menekan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, terutama kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Rika juga menegaskan jangan sampai kita baru turun tangan ketika sudah ada korban.

“karena mencegah adanya korban lebih baik daripada harus menangani perkara ketika sudah jatuh korban.” tegasnya.

Pukul 15.00 WIB, pemaparan dari Rika usai. Kemudian dilanjutkan pemaparan mengenai konflik agraria di Kediri yang disampaikan oleh Rahmat Hidayattulah dari Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA). Dalam pemaparannya, Rahmat menjelaskan salah satu konflik yang terjadi di utara Kabupaten Kediri, yaitu di Kecamatan Badas. Di sana, terjadi konflik antara warga dengan perusahaan tambang pasir.

Di Badas, menurut Rahmat, terdapat alih fungsi lahan yang seharusnya diperuntukkan untuk lahan tanaman pangan. Namun digunakan untuk pertambangan.

“Yang jelas, di sana disebutkan kawasan itu diperuntukkan untuk kawasan lahan pangan. Bukan kawasan pertambangan” Tambah Rahmat.

Sesi terakhir, dipaparkan oleh Danu Sukendro selaku Ketua Aji Kediri. Menurutnya, situasi di Kediri yang menyangkut kebebasan berpendapat dalam konteks ini karya jurnalistik cenderung minim, namun ada. Hal itu dikarenakan kurangnya perhatian publik.

Danu sendiri mengatakan untuk menggaet perhatian publik, ia bersama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan elemen masyarakat sipil mengadakan panggung ekspresi.

“Tujuan dari acara itu, selain untuk mendapat perhatian publik, juga untuk menyikapi isu-isu isu nasional dengan mengadakan acara yang melibatkan mereka.” ujar Danu.

Setelah pemaparan dari tiga aktivis lokal, dilanjutkan oleh empat pembicara dari SMI yang akan menyampaikan tentang isu nasional. Haris Azhar, Founder Lokataru Foundation, menjadi pembicara pertama. Dalam kesempatan itu, Haris merespon pemaparan dari Rika yang menyebut anak muda harus memiliki sikap kritis karena masa depan bangsa ada di tangan mereka.

Gayung bersambut, pembicara kedua, Muhammad Isnur, Ketua YLBHI mengatakan hal yang sama. Isnur mengatakan anak-muda muda harus kritis terhadap situasi politik, sosial ekonomi, dan sosial masyarakat. Hal itu agar anak muda tidak mudah tertipu dan terlena dengan hal-hal yang memiliki pengaruh negatif seperti ketidakpedulian pemuda untuk terlibat dalam menyikapi keadaan sosial.

Isnur memberikan contoh sederhana seperti ketika kita makan tahu dan tempe. Sebagai anak muda, kita harus kritis dan menanyakan kedelai yang dipakai untuk membuat tahu dan tempe ini dari mana.

“Kita harus bisa membedakan, jangan dikira kalau kita makan tahu tempe itu sudah cinta produk bangsa, dicari dulu itu kedelai diimpor oleh siapa dari siapa“ jelas Isnur.

Selanjutnya, Fatia Maulidiyanti, mantan Koordinator Kontras menambahkan pesan untuk anak muda agar lebih teliti dan kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Selain itu, Fatia juga berpesan agar tidak takut berpendapat karena sudah menjadi hak masyarakat untuk menggunakan hak demokratisnya dengan berani menyatakan pendapat.

Kemudian diskusi ditutup oleh Eko Prasetyo dari SMI. Menurut Eko, anak muda harus memiliki semangat yang membara sebagaimana jiwa-jiwa seorang revolusioner, jujur dan tidak segan untuk menyampaikan kebenaran dan melawan setiap ketidakbenaran,

Eko memberi contoh tentang penyampaian kebenaran yang harus dilakukan sedari kecil.

“Kalau perlu sedari kecil anak-anak sudah harus tahu fakta problem sosial masyarakat, agar di kemudian hari anak-anak akan terlatih menjadi pribadi yang jujur dan tahu cara untuk menyikapi suatu permasalahan dengan baik” ujarnya.

Setelah penyampaian dari Eko, Festival Keadilan pun selesai. Festival ditutup dengan lantunan lagu lagu bernada perlawanan yang dibawakan oleh Kupu Tarung yang berasal dari Blitar.